TIPS PENGAWETAN TELUR SEGAR UNTUK USAHA
Telur merupakan salah satu bahan pangan yang
tergolong tinggi tingkat penyerapannya dalam masyarakat. Banyak jenis
usaha menjadikan telur sebagai bahan baku utama ataupun pendukung,
ditambah lagi kandungan gizi dan protein dalam telur menjadikan telur
sebagai pilihan menu dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Untuk
konsumsi rumah tangga, jumlah telur yang dibutuhkan relatif sedikit
sehingga tidak memerlukan penyimpanan khusus. Meskipun telur ini
dilindungi oleh cangkang namun ternyata dalam jumlah yang cukup besar
dan jangka waktu yang lebih lama, telur akan mengalami penurunan mutu.
Semakin lama disimpan, penurunan mutu akan semakin besar, yang akhirnya
dapat menyebabkan kerusakan atau menjadi busuk. Penurunan mutu ini tidak
dapat dicegah, hanya dapat diperlambat kecepatannya dengan berbagai
pelakuan, yang disebut pengawetan telur segar. Untuk kebutuhan usaha
menjaga keawetan dan kualitas telur ini sangatlah penting, karena jika
sampai menurun atapun mengalami kebusukan sangatlah mempengaruhi nilai
jual telur. oleh karena itu berikut beberapa tips dan cara pengawetan
telur, semoga bermanfaat!
Seiring dengan bertambahnya waktu, telur yang
disimpan akan mengalami penurunan mutu, antara lain turunnya berat telur
yang disebabkan penguapan gas seperti uap air, karbondioksida, amoniak,
nitrogen dan H2S. Karena penguapan tersebut juga akan
menyebabkan terjadinya pembesaran kantung udara. Juga menyebabkan
perubahan kimiawi isi telur akibat terlepasnya gas CO2, yang jika tidak dilakukan penyimpanan yang baik akan mengakibatkan telur tidak dapat dikonsumsi, bahkan menjadi busuk.
PRINSIP PENGAWETAN TELUR
Pengawetan telur utuh bertujuan untuk mempertahankan
mutu telur segar. Prinsip dalam pengawetan telur segar adalah mencegah
penguapan air dan terlepasnya gas-gas lai dari dalam isi telur, serta
mencegah masuk dan tumbuhnya mikroba di dalam telur selama mungkin.
BEBERAPA CARA PENGAWETAN TELUR
Hal-hal di atas dapat dilakukan dengan cara menutup pori-pori kulit telur atau mengatur kelembaban dan kecepatan aliran udara dalam ruangan penyimpanan. Penutupan pori-pori kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan larutan kapur, parafin, minyak nabati (minyak sayur), air kaca (water pass), dicelupkan
dalam air mendidih dan lain-lain. Sedangkan pengaturan kecepatan dan
kelembaban udara dapat dilakukan dengan penyimpanan di ruangan khusus.
Perlakuan Awal
Sebelum dilakukan prosedur pengawetan, penting
diperhatikan kebersihan kulit telur. Hal ini karena meskipun mutunya
sangat baik, tetapi jika kulitnya kotor, telur dianggap bermutu rendah
atau tidak dipilih pembeli, Pembersihan kulit telur dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
Merendam telur dalam air bersih, dapat diberi sedikit
detergen atau Natrium hidroksida (soda api). Kemudian dicuci bersih
sehingga kotoran yang menempel hilang.
Mencuci telur dengan air hangat suam-suam kuku (sekitar 60°C) yang mengalir. Untuk mempercepat hilangnya kotoran dapat digunakan kain.
Setelah kulit telur bersih, dapat dilakukan pengawetan telur segar dengan metode antara lain pengemasan kering, perendaman dalam berbagai jenis cairan, penutupan pori-pori kulit telur dan penyimpanan dingin.
PENGEMASAN KERING
Pengemasan telur dapat dilakukan secara kering dengan
menggunakan bahan-bahan seperti sekam, pasir dan serbuk gergaji. Jika
pengemasnya padat, cara ini akan memperlambat hilangnya air dan CO2.
Kelemahan cara ini adalah menambah berat dan volume, yang dapat
menaikkan ongkos angkut dan ruang penyimpanan. Di samping itu,
pengemasan kering tidak banyak memberikan perlindungan terhadap mikroba
selama penyimpanan.
PERENDAMAN DALAM CAIRAN
Metode ini merupakan suatu cara pengawetan telur yang
terutama bertujuan mencegah penguapan air, serta umumnya dikombinasikan
dengan penyimpanan dingin. Beberapa cara yang dapat digunakan adalah :
Perendaman telur dalam larutan kapur
Larutan kapur dapat dibuat dengan cara melarutkan 100
g batu kapur (CaO) dalam 1,5 liter air, lalu dibiarkan sampai dingin.
Daya pengawet dari kapur karena mempunyai sifat basa, sehingga mencegah
tumbuhnya mikroba. Kapur (CaO) akan bereaksi dengan udara membentuk
lapisan tipis kalsium karbonat (CaCO3) di atas permukaan cairan
perendam. Kemudian CaCO3 yang terbentuk akan mengendap di atas permukaan
telur, membentuk lapisan tipis yang menutupi pori-pori. Pori-pori yang
tertutup ini menyebabkan mikroba tidak dapat masuk ke dalam telur dan
mencegah keluarnya air dan gas-gas lain dan dalam isi telur. Kapur juga
menyebabkan kenaikan kenaikan pH pada permukaan kulit telur yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroba.
Perendaman dalam minyak parafin
Telur direndam atau dicelupkan dalam minyak parafin
selama beberapa menit. Selanjutnya dikeringkan dengan membiarkan di
udara terbuka (dikering-anginkan) sehingga minyak parafin menjadi kering
dan menutupi pon-pori kulit telur.
Perendaman dalam air kaca (water glass)
Air kaca adalah larutan Natrium silikat (Na2SiO4),
berbentuk cairan kental, tidak berwarna, tidak berbau dan jernih
seperti kaca. Larutan ini dapat dibuat dengan melarutkan 100 g Natrium
silikat ke dalam 900 ml akuades, kemudian dapat digunakan untuk merendam
telur.
Pada saat perendaman telur, air kaca membentuk dan
mengendapkan silikat pada kulit telur, sehingga pori-porinya tertutup.
Air kaca juga mempunyai daya antiseptik, sehingga mencegah pertumbuhan
mikroba.
Pencelupan telur dalam air mendidih
Pencelupan telur dilakukan selama kurang lebih 5
detik pada air mendidih. Hal ini menyebabkan permukaan dalam kulit telur
akan menggumpal dan menutupi pori-pori kulit telur dari dalam.
Pengawetan telur dengan bahan penyamak nabati
Prinsip dasar dari pengawetan menggunakan bahan
penyamak nabati adalah terjadinya reaksi penyamakan pada bagian luar
kulit telur olah zat penyamak (tanin). Akibatnya kulit telur menjadi impermeabel (tidak
dapat bersatu atau bercampur) terhadap air dan gas. Dengan demikian,
keluarnya air dan gas dari dalam telur dapat dicegah sekecil mungkin.
Bahan penyamak nabati yang banyak digunakan adalah daun akasia (Acasia decurrena) atau daun jambu biji (Psidium guajava) yang
telah dikeringkan. Daun kering tersebut direndam selama semalam dan
direbus 1 jam, kemudian airnya disaring dan digunakan untuk merendam
telur.
PENUTUPAN PORI-PORI KULIT TELUR
Penutupan pori-pori kulit telur dapat dilakukan
menggunakan agar-agar, getah karet, sabun, gelatin, minyak nabati dan
bahkan getah kaktus. Bahan yang paling banyak digunakan adalah berbagai
minyak nabati atau minyak sayur karena mudah disediakan dan murah.
Minyak nabati digunakan dengan cara pencelupan
atau penyemprotan. Minyak nabati yang dapat digunakan
antara lain : minyak kelapa, minyak kelapa sawit minyak kacang, minyak
jagung atau kombinasi campuran minyak-minyak di atas.
Teknik penyemprotan akan menghasilkan sekitar 50 mg
minyak yang menutupi pori-pori sebutir telur. Jika cara ini
dikombinasikan dengan penyimpanan pada suhu dingin (sekitar 1°C) dapat mengawetkan telur selama 6 bulan, dengan hampir tidak ada perubahan dibandingkan keadaan segamya.
PENYIMPANAN DINGIN
Telur segar dapat dipertahankan mutunya dalam waktu
yang relatif lama bila disimpan dalam ruangan dingin dengan kelembaban
udara antara 80 – 90 % dan kecepatan aliran udara 1 – 1,5 m/detik. Dalam
hal ini telur disimpan sedekat mungkin di atas titik beku telur yaitu
-2 °C. Suhu yang rendah ini akan memperlambat hilangnya CO2 dan air dari dalam telur serta penyebaran air dari putih ke kuning telur. Untuk lebih menghambat hilangnya CO2 maka kadar CO2 di dalam ruang penyimpanan dapat ditingkatkan sampai 3 persen.
Hal-hal di atas merupakan beberapa metode yang
dapat digunakan untuk mengawetkan telur segar, pemilihan metode yang
akan diterapkan dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar